Menyusun Angkatan Sastrawan Lokal Dengan Penelitian Sejarah Sastra: Sebuah Pandangan Konseptual

Moh Ridlwan, R. Kunjana Rahardi

Abstract


Artikel ini berangkat dari berbagai persoalan yang berkaitan dengan sejarah sastra lokal yang hingga saat ini minim dalam penelitian kesusastraan serta dalam forum ilmiah. Di samping itu, keberadaan sastra lokal dianggap remeh atau nomor dua setelah sastra yang berkembang secara nasional. Faktor lain adalah penyebaran karya hanya di kalangan tertentu dan keterbacaan yang sedikit sehingga dianggapnya tidak berkualitas. Kualitas karya sastra tidak ditentukan penyebaran karya atau keterbacaan. Sebab, karya sastra merupakan hasil pemikiran penulis yang merefleksikan pandanganya terhadap dunia yang dipengaruhi oleh lingkungan, sosial, budaya, dan politik. Maka, kualitas karya sastra adalah berkaitan estetika dan konteks sastra sendiri. Contoh, Chairil Anwar menjadi terkenal setelah HB. Jassin mengapresiai karyanya di tempatnya mengajar. Ada dua cara dalam penelitian sejarah sastra lokal. Pertama, klasifikasi sastrawan. Yaitu, menyusun sastrawan-sastrawan dalam kurun tertentu didasarkan pada angkatan. Kedua, karakteristik sastra. Yaitu, membahas unsur struktur sastra dengan intra struktur dan ekstra struktur.


Keywords


Sejarah; sastra lokal; konsep penelitian

References


Faruk (2014). Pengantar Sosiologi Sastra: dari Strukturalisme Genetik sampai Post-Modernisme (Edisi Revisi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Herawati, Y. (2010). Pemanfaatan Sastra Lokal Dalam Pengajaran Sastra. Lingua Didaktika. Lingua Didaktika, 3(2), 197–208.

Kleden, Ignas. (2004) Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-Esai dan Budaya. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Kuntowijoyo. (2003). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Muhri. (2017). Perkembangan Tema-Tema Puisi Penyair Bangkalan. Jurnal Avatisme. 20 (2): 168-80. https://doi.org/10.24257/atavisme.v20i2.305.

Muhri. (2019). Tradisi, Ketokohan, dan Karya Sastra Generasi Kedua Sastra modern Bangkalan. Jurnal Sastra Aksara, 7 (2).

Murtini. Dkk. (2019) Fakta Sejarah dalam Novel-Novel Pandir Kelana. Jurnal Sastra Indonesia 8 (3) (2019).

Perkins, D. (1992). Is Literary History Possible? Baltimore, Maryland, London: The John Hopkins University Press.

Pradopo, R. D. (2001). Puisi Pujangga Baru: Konsep Estetik, Orientasi dan Strukturnya. Humaniora Volume XIII, No. 1/2001.

Pradopo, R.D. (2007). Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sungkowati, Yulitin. 2010. “Memetakan Komunitas Sastra Indonesia Di Jawa Timur.” Atavisme 13 (1): 100–116. https://doi.org/10.24257/atavisme.v13i1.147.100-116.

Sungkowati, Yuliatin. 2013. “Perempuan‐Perempuan Pengarang Jawa Timur (Kajian Feminis).” Atavisme 16 (1): 57–69. https://doi.org/10.24257/atavisme.v16i1.81.57-69.

Supriyadi. 2000. “Sastra Lokal, Nasional, Atau Global?” XII (2).

Teeuw, A. (2015). Sastra dan Ilmu Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.

Wellek, Rene dan Werren, Austin. (2016). Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramadia




DOI: http://dx.doi.org/10.28926/briliant.v6i1.600

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Briliant: Jurnal Riset dan Konseptual

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Published by:

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Universitas Nahdlatul Ulama Blitar